Kamis, 10 November 2016

Cerpen yang diambil dari kisah nyata, Sahabat 369 Hari.



Hi, guys! Kali ini saya tidak akan membahas bahasa Inggris dulu, tapi saya ingin sharing coretan-coretan saya saat SMA. Cerita tentang persahabatan saya yang hanya 369 hari. Langsung saja ya, check it out!

SAHABAT 369 HARI
Aku bingung, sungguh, aku sangat bingung. Aku merasa mati dalam kehidupan. Sudah 2 orang sahabatku meninggal dunia, padahal usia mereka masih sangat belia. Sejak saat itu, aku sering merasakan kegundahan….ada hari-hari ketika aku hancur luluh, ada malam-malam saat aku ragu pada diriku sendiri…aku merasa jatuh, hatiku merasa mati, hilang semua harapanku. Ah ya, sebelumnya perkenalkan namaku Mael, siswi kelas 2 SMA yang sangat berambisi keras untuk meraih mimpinya bersama sahabat-sahabatnya. Namun, semua mimpi kami terasa sirna begitu saja saat ke 2 orang sahabat kami pergi untuk selamanya.
Semua dimulai saat aku masuk bangku SMA. Aku mendapat banyak teman baru karena sikapku yang mudah berbaur dengan orang lain. Tetapi, teman hanyalah teman, yang kadang ada dan kadang tidak ada. Yang datang saat ada maunya saja, giliran kita yang butuh mereka tidak menampakan wajahnya sama sekali. Dari sana aku memutuskan untuk mencari beberapa sahabat. Iya…sahabat, real friend kalau kata orang barat.
Suatu hari saat aku duduk di taman sekolah, tiba-tiba ada seorang perempuan lari lalu jatuh tepat dihadapanku, “Aww! Sakit sekali’’ ucapannya sambil kesakitan. Aku pun langsung datang membantunya, “Hey kamu gak papa? Ayo sini aku bantu. Untunglah lukanya gak terlalu serius.’’ Lalu aku membawa dia ke ruang UKS. Disana aku dan dia saling berkenalan satu sama lain.
“Hey makasih ya sudah bantu aku’’ -Naswa
“Iya sama-sama!” -Mael
“By the way nama kamu siapa?’’ -Naswa
“Mael, nama ku Mael, kamu?” -Mael
“Aku Naswa, baru kelas 1 disini’’ -Naswa
“Oh ya? Aku juga baru kelas 1 disini” -Mael
“Wah kebetulan yah. Nice to meet you by the way!” -Naswa
Nice to meet you too!” -Mael
Aku mengobrol dan menemani dia sampai orang tuanya menjemput dia.
Besoknya, disekolah ku ada perubahan kelas. Secara tidak kusangka-sangka aku dan Naswa menjadi satu kelas. Kami menjadi sangat akrab, dan ternyata kami memiliki banyak kesamaan, suka lagu-lagu barat, film-film action, suka seafood, dan masih banyak lagi. Karena kami nyaman dengan pertemanan ini, akhirnya kami memutuskan untuk menjadi sahabat.
Tanggal 20 Juli 2013, ya tanggal ini….aku masih ingat tanggalnya, karena itu dimana aku dan Naswa mendapat 3 sahabat baru yaitu, Jenita, Fiki dan Nadila. Hari itu sekolah mengumumkan akan mengadakan “Festival of Drama Contest : English and Arabic” kami semua dipertemukan oleh adanya acara ini. Kebetulan kami dapat peran sebagai grand opening untuk festival itu.
“Hey! Aku Nadila” sahut dia memperkenalkan dirinya sambil bersalaman
“Hei! Aku Mael” -Mael
“Fiki” -Fiki
“Aku Naswa” -Naswa
“Dan aku Jenita” -Jenita
“Aku senang bias ketemu kalian kawan-kawan baruku” -Naswa
“Iya aku juga” -Fiki, Mael, Jenita, Nadila
Sebelum latihan akan dimulai, kita selalu ngobrol-ngobrol dulu untuk saling mengenal satu sama lain. Sampai akhirnya kita benar-benar merasa srek untuk menjadi sahabat. Kita selalu bareng berlima kemanpun kita pergi.
Festival itu berjalan dengan lancer dan sukses. Kita sangat senang dan puas, termasuk semua guru merasa bangga pada semua murid yang ikut bagian di festival itu.
Hari demi hari kita jalani bersama. Kita saling mengenal lebih dalam lagi. Kemana pun kita pergi kita selalu kompak, tidak pernah ada yang alpa.
Tanggal 10 Maret 2014, sekolahku kembali mengadakan sebuah acara lagi yaitu “Panggung Gembira : Spectaculer Show”. Kita berlima dapat bagian pentas yang berbeda, tapi kita gak mau terpisahkan.
“Mael, kamu dapat bagian apa?” Tanya Naswa kepada ku
“Aku dapat bagian untuk puisi kolosal, kalau kalian apa?” Ucapku dengan wajah datar
“Aku drama!!! Asyik….aku suka drama!” Jawab Fiki dengan senangnya
“Aku nyanyi….. aduh aku kurang suka nyanyi” jawab Jenita dengan wajah tidak semangat.
“Fik, kamu drama? Sama aku juga dapat drama yeee…..” jawab Nadila dengan senang dan langsung memeluk Fiki.
“Aku tari tradisional! Ah ga mau, ga bias, ga asyik ah” ucap Naswa dengan wajah kesal. “Eh ko kita jadi pisah-pisah bagian gini ya? Iya ya ga asyik. Protes aja yuk ke Pak Budi biar kita dapat bagian yang sama dan bisa bareng-bareng terus” sahut Fiki dengan ide-idenya yang selalu nakal dan iseng.
Ternyata protes kita diterima oleh Pak Budi. Kita benar-benar senang banget. Kita ngambil bagian untuk drama lagi.
Keesokan harinya, kita mulai latihan “Eh istirahat dulu yuk! Aku cape nih!” Ucap Naswa. “Ayooo! Aku juga cape nih,” jawabku sambil langsung duduk. Setiap istirahat, Naswa selalu minta izin ke WC dan anehnya gak pernah balik lagi. “Eh kenapa sih Naswa tiap ke WC langsung ngilang gini” ucap Fiki dengan wajah kesal! “Mungkin dia langsung pulang” ucapku kepada Fiki. “Tapi kayanya ada sesuatu yang dia sembunyiin deh dari kita” tegas Fiki. “Masa sih? Eh tapi, kayanya iya deh, buktinya sekarang aja dia gak balik lagi,” ucap Jenita. “Udahlah lupain! Pulang aja yuk udah sore nih” tegas Nadila. Kita selalu datang berlima tapi pulang berempat, ya….berempat saja.
Suatu hari pas pulang latihan drama aku tidak ikut pulang bareng dengan mereka, aku harus belanja dulu ke supermarket. Di tengah jalan aku melihat Naswa di halte dengan fisiknya yang kelihatan lemas. Aku pun langsung mengahampirinya. “Naswa kamu kenapa? Kamu sakit?” Aku benar-benar panik di tambah saat tiba-tiba Naswa pingsan. Segera aku meminta bantuan orang lain untuk membawa Naswa ke Rumah Sakit dan langsung menghubungi keluarganya.
Sambil menunggu keluarganya datang, aku diam-diam menemui dokter yang memeriksa Naswa. “Dok saya kakaknya, adik saya kenapa ya?” Dokter itu langsung percaya saja mendengar kalau aku kakaknya, mungkin karena tubuhku yang lebih besar dari pada Naswa. “Adik anda mempunyai penyakit kanker.” ucap dokter itu. Mendengar ini hatiku pecah seperti gelas yang dipukul, aku tidak percya ini.
Saat Naswa siuman, aku duduk disamping  tempat ia berbaring. Awalnya dia terkejut melihat aku hadir disana, mungkin karena tidak ingin ada yang tau. “Naswa, kenapa kamu gak pernah bilang kalau kamu sakit?” Tanyaku dengan lemas, tiba-tiba dia mengusirku, “Pergi kamu!!! Pergi!!! Ngapain kamu disini?” Ucapnya sambil menangis dan menatap mataku dengan tajam. Tapi aku tidak pergi, aku tidak mau meninggalkan dia sendiri dalam kesakitan. Aku pun langsung memeluk dia, “Naswa aku menyayangimu!” Bisik ku kepadanya, “Mael, aku juga menyayangimu tapi, aku lemah….aku….tidak akan hidup lebih lama lagi,” ucapnya sambil perlahan-lahan melepaskan pelukanku. “Kamu tuh ngomong apa sih? Kamu jangan ngomong kaya gitu dong! Aku tuh gak suka…apa kamu tega ninggalin aku? Kamu ingatkan saat pertama kali kita bertemu? Bukankah kita sudah berjanji akan selalu ada untuk satu sama lain? Dan kamu ingat janji kita dengan Fiki, Jenita dan Nadila kalau kita akan meraih mimpi bersama-sama?” Mendengar itu Naswa menangis dan memelukku “Tolong jangan kasih tau yang lain tentang ini. Please…” ucap Naswa. “Tapi Nas…” jawabku sambil menangis “Aku mohon Mael, cukup aku, keluargaku dan kamu yang tau hal ini.” Iya, itulah yang dia minta, menjaga rahasianya “Baiklah aku janji Naswa.” ucapku dengan sedih.
Hari pertunjukan semakin dekat kita latihan semakin sering. Suatu hari Naswa telat datang latihan. “Naswa!! Kenapa sih kamu telat? Udah tau pertunjukan sebentar lagi” ucap Jenita dengan kesal dan marah. “Iya aku tau, aku salah, maafin ya,” ujar Naswa dengan menundukan kepalanya. “Maaf-maaf, kamu telat!” ujar Jenita. “Hey udah deh jangan berantem, udahlah gak papa toh cuma telat” ucapku mencoba mendamaikan mereka. “Oh jadi Mael ngebela dia?“ tegas Jenita. “Bukan begitu, tapi kan….” Tiba-tiba bicaraku terhenti saat pelatih drama kita datang. “Hey anak-anak ayo mulai lagi latihannya, ingat ya intonasinya, mimik mukanya, penguasaan panggung, dan lain-lain, udah harus benar. Dan besok kita gladi bersih ya,“ ujar pak pelatih dengan gayanya yang seperti perempuan.
Semakin dekat dengan pertunjukan, kondisi Naswa terlihat semakin buruk, tapi dia selalu memaksakan untuk ikut latihan. Aku sempat pernah ngelarang dia untuk tidak ikut latihan. Tapi dia tetap pada pendiriannya untuk terus latihan agar bias memberikan pertunjukan yang terbaik. “Mael, mungkin ini akan menjadi pertunjukan terakhirku,“ ucapnya sambil pergi meninggalkanku dan tanpa ku pahami apa maksudnya.
Malam pertunjukan tiba. “Kalian sudah siap anak-anak?” ujar pak Budi. “Siap pak!! Good Luck! Good Luck! Good Luck! Yeee” -jawab kita dengan semangat.
Pertunjukan itu berjalan dengan sangat sukses, tepukan penonton begitu bergemuruh, mereka benar-benar terpesona dengan penampilan kita.
Setelah selesai acara, aku langsung pergi ke belakang panggung dan mencari Naswa. “Hey Qi! Lihat Naswa ga? Dia tiba-tiba ngilang pas grand closing tadi,” ucapku dengan khawatir. “Naswa? Mmm….kayaknya dia udah pulang deh sama orang tuanya,” ujar Sauqi. “Oh…udah pulang ya, makasih ya Uqi!” ucapku, “Iya sama-sama!” ujar Sauqi dan langsung pergi lagi. Setelah itu, aku pun langsung pulang juga.
Tidak ada yang tau ternyata hari itu adalah hari terakhir kami bertemu dengan Naswa. Sudah seminggu lebih tidak ada kabar dari Naswa. Aku, Fiki, Jenita dan Nadila pun memutuskan untuk pergi kerumah Naswa.
Dirumah Naswa kita disambut dan disapa dengan hangat, “Ade-ade gimana kabarnya?” Tanya ibu Naswa. “Alhamdulillah kami baik-baik aja kok bu. Ibu sendiri gimana?” jawab Jenita. “Syukur Alhamdulillah kalau kalian baik-baik aja, ibu senang dengarnya, Alhamdulillah ibu juga baik-baik aja ko” –Ibu Naswa. “Oh ya bu, Naswanya ada? Sudah seminggu lebih Naswa tidak menghubungi kami“ ujar Nadila kepada Ibu Naswa. Ibu Naswa tidak menjawabnya, ia hanya menundukan kepalanya, “Ini ada surat untuk kalian dari Naswa” kata ibu Naswa sambil menyerahkan surat itu, tidak berapa lama kemudian kita pun membaca surat itu.
“………………..Mael, Fiki, Jenita, dan Nadila selalu jaga diri baik-baik ya, Maafkan aku pergi lebih dulu, aku tidak bisa melawan takdir. Walaupun aku sudah tidak ada, tetaplah berjuang untuk mewujudkan mimpi kita dulu, jadi bu dosen, bu dokter, bu polwan dan bu dubes. Wujudkanlah mimpi kalian itu, maafkan akun tidak bisa berjuang bersama-sama lagi dengan kalian. Aku telah mengubur mimpiku dalam-dalam untuk menjadi arsitektur saat dokter memberitahuku tentang penyakit yang berserang ditubuhku ini. Iya…ini benar-benar menikamku, Oh ya kalau kalian ingat aku, nyanyikanlah lagu persahabatan kita
“Walau badai menghadang… Ingatlah ku kan selalu setia menjagamu… Berdua kita lewati jalan yang berliku tajam“
 Naswa sayang kalian! Naswa akan senang kalau kalian bisa meraih mimpi kalian. Naswa akan selalu melihat kesuksesan kalian dari sana nanti, sahabatku…………………”
Belum juga selesai terbaca surat itu, tiba-tiba Fiki berdiri, “Bu ini maksudnya apa? Naswa masih hidupkan bu??” Tanya Fiki sambil menangis. Ibu Naswa hanya terdiam. “Bu kapan Naswa meninggal?“ Tanyaku dengan sedih, “5 hari yang lalu“ jawab ibu Naswa dengan menahan air matanya. Tiba-tiba Fiki memegang baju kerahku, “Mael maksud kamu apa? Jadi kamu udah tau kalau sebenarnya Naswa punya penyakit ini? Iya gitu??“ Fiki menatapku dengan tajam. Suasana menjadi hening dan saling menatap. Aku mencoba menelaskan kepada Fiki kenapa aku menyembunyikan semua ini.
Esoknya, Fiki terlihat lemas di sekolah, “Kamu sakit? Tanya Jenita. “Ah gak papa kok “ ujar Fiki. “Aku tau ko kamu pasti ngerasa kehilangan banget atas meninggalnya Naswa, tapi, bukan cuma kamu, kita semua juga! Apalagi aku, aku yang lebih dulu kenal sama dia. Aku benar-benar mati rasa saat aku tau dia benar-benar pergi untuk selamanya“ ucapku sambil memeluk Fiki dengan sedih.
Beberapa hari kemudian aku ketemu Fiki di parkiran sekolah,
“Lho Fik, mau kemana? Kok udah mau pulang?” -Mael.
“Aku pulang lebih dulu ya, kepala ku agak pusing nih” -Fiki,
“Ya udah aku anterin, yuk!” -Mael,      
“Nggak, jangan! Kamu belajar aja, sebentar lagi bel. Lagipula aku kuat kok pulang sendiri.” -Fiki
“Beneran kuat? Oh ya udah hati-hati dijalan ya!” -Mael
“Iya iya…ayo cepat masuk kelas sana!” -Fiki
“Oke bos!” -Mael 

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-6570527672860531"
     crossorigin="anonymous"></script>

Akhirnya Fiki pulang sendiri. Dan beberapa jam kemudian, aku mendapat kabar dari keluarganya bahwa Fiki tabrakan dan langsung mati ditempat. Hatiku semakin sedih mendengar kabar ini. Belum juga lama salah satu sahabat kita meninggal, sekarang Fiki menyusul, Jenita dan Nadila merasa tidak percaya akan hal ini.
Dan ternyata Fiki mati bukan karena tabrakan yang tidak disengaja, dia bunuh diri dengan menabrakan motornya pada mobil yang melaju kencang. Hilang….hilang sudah mereka, dua sahabat terbaiku. Sekarang hanya tinggal aku, Jenita dan Nadila. Ya Tuhan takdir apakah ini, mengapa engkau begitu cepat memanggil mereka.
Tepatnya hari minggu, aku meet up dengan Jenita dan Nadila. Ya kita curhat-curhatan gitu lah. Tiba-tiba Nadila menatapku dan Jenita
“Mael, Jen, kayaknya aku mau pindah deh. Aku gak mau sedih terus disini.“ -Nadila
“Tapi Nad…..” -Jenita
“Iya si kamu bener, aku juga gak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Hidup kita masih panjang, kita masih muda“ -Mael
“Nggak, tunggu. Maksud Mael….Mael juga mau pindah? Iya kan gitu?“ -Jenita
“Kayaknya iya Jenit. Dan keputusanku udah bulat kalo aku mau pindah“ -Mael
“Apa?? Baiklah kalau seperti ini keputusannya….Jenit juga akan pindah” -Jenit
“Apa? Jenit kamu mau pindah juga? Tapikan…” ucap Nadila dengan kaget
“Iya aku rasa aku lebih baik pindah juga. Tapi guys kita harus janji satu hal, jangan pernah lupakan persahabatan kita, walaupun persahabatan ini hanya 369 hari” ucap Jenita
“Iya kamu benar Jenit! Dan walaupun nanti kita udah beda sekolah dan punya teman baru jangan lupakan teman lama. Tetep kenang canda kita, tawa kita, tangis kita, marah kita, kelas kita, makanan kita, nakal kita, dan semua tentang kita….” -Meal
“Jauh dimata dekat dihati, itu kita 2 tahun kedepan. Semoga nanti Tuhan menyatukan kita lagi saat memasuki bangku kuliah” -Nadila
“I really hope so.“ -Meal
“Yaa…” -Jenita
Akhinya kita benar-benar pindah sekolah. Aku disini dan mereka disana. Aku selalu berharap kami akan dipersatukan lagi suatu hari nanti, entah kapan dan entah dimana.

-------Life Must Go On-------

*Cerpen ini saya persembahkan untuk sahabat saya yang telah meninggal dunia, Almh. Muna dan Fatma. Terima kasih atas memori-memori indahnya, sahabatku. Aku akan selalu mengenang kalian. Beristirahatlah dengan tenang disisi-Nya. –Mila

10 komentar:

  1. Balasan
    1. Makasih Cantika ;) itu ceritanya agak diedit2 lagi hehe.

      Hapus
  2. Ceritanya sedih banget... Thumps up deh udah kreatif nulis. Tetep goreskan tintanya yaa..ditunggu tulisan2 selanjutnya

    BalasHapus
  3. Innallillahi wainna ilaihi raji'un :'( critanya good menyentuh bangett,,jadi baper :'( suka bangettt pokonyaa:-*

    BalasHapus
  4. Ceritanya sedih... Terharu bgt. Good job deh(Y)

    BalasHapus
  5. Sediiihh bangeeett
    Sad Ending
    Semoga cita-cita nya tercapai semua.

    BalasHapus